Contributors

Friday, March 18, 2011

Afghanistan : Konflik yang Tak Pernah Berakhir - Bagian 4

Faktor Regional

Pengaruh regional terhadap langgengnya konflik di Afghanistan adalah intervensi dua negara tetangga Afghanistan, yaitu Iran dan Pakistan yang membawa misi dan kepentingan mereka masing-masing ke negara ini. Selain dari sisi politis dan ekonomi, kedua negara ini juga memaksakan keyakinannya dimana Iran memasukan ajaran syiahnya yang kuat dan Pakistan dengan sunninya yang kuat.

Kedua negara ini menjaga agar Afghanistan tetap dalam kondisi konflik karena Afghanistan berada di posisi yang strategis. Iran menganggap Afghanistan akan menjadi pangkalan Amerika untuk menyerang Iran, bila Afghanistan dalam keadaan damai. Sementara Pakistan yang memiliki konflik panjang soal Kashmir dengan India, Pakistan melihat akan sangat mudah bagi India untuk menyerang Pakistan melalui Afghanistan, bila Afghanistan dalam keadaan damai. Karena itulah, kedua negara ini membuat Afghanistan selalu dalam keadaan tidak damai. Karena damainya Afghanistan akan berakibat fatal bagi kedua negara ini.

Afghanistan juga penting bagi kedua negara ini karena Afghanistan memiliki sumber daya alam yang luar biasa dan sampai hari ini belum dieksplorasi. Iran sangat menikmati air dari Afganistan dengan gratis. Afghanistan tidak sempat memberikan harga untuk air yang dinikmati Iran karena Afghanistan masih sangat sibuk mengurus perang yang terus berlangsung.

Ada 2 dam yang sebenarnya harus dibangun dan India bersedia membiayai pembangunan dam tersebut. Tetapi pemerintah Iran memberi peringatan kepada India agar tidak membangun dam tersebut, karena pembangunan dam tersebut akan mengakibatkan salah satu kota terbesar di Iran akan hancur irigasi dan pasokan airnya.

Kebijakan Inggris memecah wilayah Afghanistan dan Pakistan sangat berdampak besar bagi langgengnya konflik di negeri ini. Inggris membelah wilayah suku Pasthun menjadi dua, sebagian Pasthun masuk ke wilayah Afghanistan dan sebagian lainnya masuk ke Pakistan. Pasthun adalah satu suku dan apa yang dirasakan oleh Pasthun di belahan Pakistan akan dirasakan oleh Pasthun di Afghanistan. Karena itu gerakan perlawanan Taliban yang terjadi di Pakistan juga merupakan panggilan jiwa bagi Pasthun di Afghanistan. Adalah tradisi Pasthun untuk saling membantu sesama suku dan melindungi siapapun yang masuk dalam wilayahnya.

Masyarakat Pasthun memiliki 3 nilai hidup, yaitu sangat murka bila dikhianati, akan memberikan maaf jika pihak yang bersalah meminta maaf dengan setulus hati dan tidak mengulangi lagi dan melindungi siapapun yang masuk ke wilayahnya, sekalipun mereka harus mengorbankan nyawa mereka. Nilai hidup inilah yang tidak dipahami oleh pemerintah asing yang ada di Afghanistan tersebut, seperti Amerika.

Ketika Amerika meminta agar masyarakat Pasthun melepaskan anggota Al-Qaida kepada tentara US, masyarakat Pasthun menolak karena menjaga dan melindungi tamu adalah harga diri dan nilai yang tidak bisa diubah oleh siapapun, sekalipun mereka harus membayarnya dengan nyawa. Karena itu, banyak para jihadis internasional yang akan dengan senang hati lari ke masyarakat Pasthun, karena jaminan keamanan pasti akan diberikan oleh masyarkat Pasthun bagi siapapun yang masuk ke wilayahnya.

Karena kantung-kantung Pasthun umumnya berada di wilayah selatan dan Timur dan sebagian wilayah tengah Afghanistan, maka konstelasi konflik dan perang yang dahsyat hanya terjadi di wilayah-wilayah tersebut. Utara yang banyak didiami oleh suku Tajik seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi di wilayah selatan. Begitupun di wilayah tengah Afghan yang banyak didiami oleh suku Hazara. Mereka menjalani kehidupan sehari-harinya seperti biasa. Seolah tidak peduli kalau di bagian selatan Afghanistan setiap saat nyawa penduduk Afghan di sana bisa hilang dalam hitungan detik sekalipun.

Menurut orang-orang Pasthun, sebenarnya ada konspirasi untuk mengalahkan dan menghancurkan orang-orang Pasthun, karena Pasthun di wilayah Afghanistan dan Pakistan adalah satu. Perang sangat identik dengan suku Pasthun, karena di mana ada suku Pasthun, di situ pasti ada perang. Banyak suku lain yang bosan melihat peperangan ini dan mereka tahu Pasthunlah penyebab perang di negeri ini sehingga tak pernah usai.

Selagi mentalitas suku Pasthun belum berubah dan mudah dibayar oleh siapapun, maka perang di negeri ini tak akan bisa selesai. Karena itulah masyarakat Pasthun melihat ada konspirasi untuk menghancurkan suku ini dan karena itu mereka siaga bersatu mempertahankan keutuhan suku ini.

Perang dingin antara Iran dan Amerika di tanah Afghanistan adalah faktor internasional yang membuat konflik tersebut tetap langgeng. Iran sangat berkepentingan agar Afghanistan tidak pernah damai, karena bila Afghanistan damai, maka Amerika yang sudah bercokol lama dinegari ini akan menggunakan wilayah Afghanistan untuk menyerang Iran. Begitupun dengan Pakistan dan India, mereka bertempur di tanah Afghanistan.

Kelompok yang menamakan dirinya Taliban menyerang kedutaan India di Kabul dua kali dalam tahun 2010 saja dan selalu mengancam akan menyerang dan membunuh orang India yang ada di Afghanistan dimanapun mereka berada, tidak peduli apakah orang itu hanya masyarakat biasa. Karena itu, masyarakat India yang ada di Afghanistan tidak bisa hidup tenang dan sering berpindah-pindah tempat demi alasan keamanan.

Banyak masyarakat Afghanistan yang melihat bahwa Taliban itu adalah kelompok yang diciptakan untuk maksud tertentu. Ada konspirasi dibalik lahirnya Taliban. Orang-orang Afghanistan yang tinggal di Middle East atau Arab, mereka ingin membangun pemerintahan yang ideal karena pemerintah sekarang dianggap korup. Beberapa orang dari mereka ingin menerapkan ide itu di Afghanistan, karena mereka tahu bahwa orang Afghanistan mayoritas adalah Pasthun dan miskin dan masih banyaknya tuan tanah. Dan Pakistan ada dibelakang orang-orang ini, karena Pakistan selalu menggunakan orang-orang ini sebagai alat untuk membuat stabilitas keamanan di Afghanistan terganggu. Dengan mempertahankan kelompok islam ekstrimis, ini merupakan ancaman yang bagus bagi pemerintah Afghanistan dan juga pemerintah India.

Sebenarnya ada banyak orang di Taliban yang tidak terlibat dalam gagasan ini, mereka hanya berpikir mereka orang baik yang taat pada perintah agama, mereka orang-orang yang tidak mengerti apa-apa, namun bersedia berjihad demi agama. Pihak internasional juga memberikan andil bagi lahirnya Taliban karena mereka membom tempat-tempat tanpa mengindahkan penduduk sekitar dan banyak penduduk yang tak berdosa yang menjadi korban. Tindakan semena-mena tentara internasional ini memicu kemarahan masyarakat Afghanistan dan pada akhirnya membuat keluarga korban menjadi marah dan kemudian bergabung dengan kelompok militan ini untuk melakukan balas dendam kepada tentara internasional tersebut. Dan kelompok ini sangat dipelihara oleh Pakistan agar pada saat dibutuhkan nanti, mereka akan dikirim ke Afghanistan untuk melakukan jihad. Kadang Taliban itu tidak murni para jihadis yang beraliran ideologis kuat. Banyak masyarakat Afghanistan melihat perang melawan Taliban ini hanya sebuah drama, karena untuk kasus di Baghlan, salah satu propinsi di Afghanistan, Taliban di daerah itu dikirim dari daerah lain. Malam hari mereka dibawa dengan menggunakan helikopter dan menurut mereka hanya Amerika yang memiliki helikopter tersebut. Sebelumnya Taliban tidak ada di Baghlan dan kemudian tiba-tiba di esok harinya Taliban sudah ada disana. Kadang Taliban digunakan karena mereka butuh justifikasi. Keberadaan mereka di Afghanistan atau di propinsi-propinsi di Afghanistan adalah untuk menumpas Taliban, kalau tidak ada Taliban, mereka tidak punya alasan untuk berada di situ. Salah satu alasan lain adalah kompetisi antar negara, misal Inggris menginginkan Jerman pindah dari satu tempat yang ingin ditempati Inggris, tapi Jerman tidak mau pindah, maka dikirimlah Taliban ke wilayah itu untuk menyerang tentara Jerman dan akhirnya Jermanpun pindah karena diserang Taliban dan banyak pasukannya yang mati.

Memang tidak mudah memecahkan konflik di Afghanistan karena terlalu banyak pemain dalam langgengnya konflik di Afghanistan. Walaupun kedua belah pihak sudah merasa lelah, namun atas nama kepentingan bisa saja konflik ini terus dipelihara. Akan sulit juga bagi masyarakat Afghanistan untuk membiarkan tentara internasional pergi saat ini karena mereka masih belum siap untuk mengambil alih kendali keamanan.

Namun Pemerintah Afghanistan sudah membuat target, pada tahun 2014 mereka sudah bisa keluar dari Afghanistan dan tentara Afghanistan akan dikerahkan untuk mengambil alih dan menjaga keamanan negeri ini. Untuk saat ini mereka sedang disiapkan dengan menjalani latihan gabungan dan latihan-latihan khusus di kamp-kamp ISAF diseluruh pelosok negeri.

Sekalipun banyak yang pesimis, namun banyak pula orang Afghanistan yang optimis kalau perang bisa berakhir. Karena semua orang sudah letih dan sekarang mereka sudah di titik puncak dari konflik tersebut dan perlahan namun pasti tensi konflik ini akan menurun. Taliban juga manusia yang juga bisa lelah, dan banyak dari mereka yang mati, hidup berpindah-pindah karena tidak aman dan mereka tidak bahagia karena mereka harus hidup seperti ini.

Amerika juga sudah bingung karena banyak juga tentaranya yang mati dalam peperangan ini dan strategi yang dimainkan tidak menyurutkan semangat para Taliban, sekalipun peralatan mereka jauh lebih sederhana dari pasukan ISAF. Akankah damai bisa menghiasi langit Afghanistan dan membuat wajah masyarakat Afghanistan tersenyum ? hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Afghanistan : Konflik yang Tak Pernah Berakhir - Bagian 3

Faktor Internal

Secara internal, sejak negeri ini dikendalikan oleh Presiden Karzai, korupsi merajalela, para elit hanya mementingkan kepentingan diri mereka sendiri dan angka kemiskinanpun meroket. Banyak rakyat Afghan hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Angka kriminalitas tinggi, perampokan dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Orang tidak segan menculik dan membunuh orang lain hanya karena uang tebusan. Target yang diplih biasanya orang asing terutama yang berkulit putih, pekerja LSM dan bahkan orang Afghan yang kaya.

Kesenjangan begitu menganga, yang kaya tetap kaya sedangkan yang miskin sulit sekali untuk bangkit dari kemiskinannya. Fenomena perampokan dan pembunuhan demi uang tebusan ini bukan karena orang Afghan kejam, tapi kemiskinan, sulitnya hidup dan mahalnya harga sandang pangan memaksa orang-orang miskin memilih jalan pintas ini untuk tetap bisa bertahan hidup. Negara tidak mampu menangani masalah korupsi dan ini yang membuat masyarakat kecewa dan marah.

Dalam pemilihan presiden tahun 2009 lalu, masyarakat Afghanistan sudah apatis dengan kepemimpinan Karzai. Mereka sangat berharap dan memimpikan pemimpin baru yang bisa membawa Afghanistan keluar dari kemiskinan dan perang yang sudah sangat melelahkan jiwa masyarakat Afghan. Mereka menginginkan kedamaian dan bisa hidup tenang. Namun, harapan itu lagi-lagi hanya mimpi karena wajah Afghanistan masih tetap menampakan wajah lama, yaitu pemimpin lama kembali dipilih walau tidak dikehendaki masyarakat.

Pun pada pemilihan majelis rendah atau wolesi Jirga pada September 2010 lalu, masyarakat Afghanistan sudah tidak peduli dengan pemilihan wakil rakyat. Karena mereka tahu bahwa janji yang diucapkan saat kampanye hanyalah janji. Kehidupan masyarakat tidak akan berubah sekalipun kandidat tersebut sudah duduk di parlemen. Kemiskinan dan ketidakberdayaan inilah yang membuat sebagian masyarakat melakukan tindakan-tindakan yang membuat sebagian masyarakat lain merasa terancam keamanannya.

Eksistensi warlord (mujahidin) masih sangat kuat dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat dan perpolitikan negeri ini juga menjadi warna lain yang membuat konflik negeri ini tidak pernah usai.

Warlord pada jaman perang melawan Soviet memiliki posisi yang sangat dihormati, disegani dan ditakuti karena tindakan mereka yang kadang sangat kejam dan brutal. Ketika Taliban berkuasa, kekuasaan para warlord tidak lagi sekuat sebelumnya. Pengaruh mereka menghilang dan ini menyebabkan para warlord kecewa dan kemudian melakukan tindakan-tindakan yang membuat rakyat menjadi gusar dan hidup dalam ketakutan.

Kondisi yang sama pun terjadi saat Karzai menjabat sebagai presiden. Peran warlord ditekan dan ini membuat para warlord merasa tidak nyaman. Para warlord ini berusaha untuk kembali dan menanamkan kuku kekuasaannya. Hal ini terlihat pada pemilu majelis rendah tahun lalu. Banyak kandidat yang diback up oleh para warlord. Pemilu sangat terkesan sekali sebagai ajang pertarungan antar warlord.

Sistem rekrutmen di kursi pemerintahan adalah faktor internal lain yang memunculkan pergolakan di masyarakat. Masyarakat tidak puas terhadap orang-orang yang duduk dalam pemerintahan tersebut. Perekrutan orang-orang ini tidak dilakukan berdasarkan kemampuan, tetapi berdasarkan relasi, afisiliasi, persamaan bahasa dan etnisitas.

Sistem ini yang membuat orang-orang yang duduk dalam pemerintahan hanya loyal pada atasannya dan bukan pada masyarakat dan pembangunan negeri ini. Mereka hanya peduli bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dan 80% dana pembangunan akan masuk ke kantong mereka, hanya 20% yang digunakan untuk pembangunan.

Ini menjadi masalah besar bagi pemerintah, karena angka pengangguran semakin banyak dan akses ke pelayanan sosial juga sulit didapatkan masyarakat. Maraknya organisasi internasional di Afghanistan, membuat masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah karena organisasi internasional ini mampu memberikan gaji yang jauh lebih besar dan fasilitas yang lebih baik dari yang bisa diberikan oleh pemerintah. Kondisi ini membuat image pemerintah jatuh karena organisasi internasional lebih mampu memberikan gaji dibanding pemerintah.

Karena kondisi ini lahirlah kekecewaan masyarakat kepada pemerintah karena mereka melihat banyak politisi korup, pemerintah korup, polisi korup dan akhirnya mereka memilih bergabung dengan Taliban karena dengan menjadi anggota Taliban, mereka bisa mendapatkan uang dengan mudah dan cepat.

Tingginya tingkat buta huruf masyarakat yang hampir mencapai kurang lebih 30-35%, membuat masyarakat Afghanistan sangat rentan dan mudah sekali dipengaruhi oleh orang lain, baik oleh politisi, pimpinan agama, warlord maupun pihak-pihak lainnya. Tingkat buta huruf sangat tinggi karena budget negara banyak diserap untuk anggaran keamanan baik untuk pembelian peluru, senjata, dll., sementara untuk dana kesehatan, pendidikan dan pembangunan infrastruktur lebih kecil.

Keadaan seperti ini mengakibatkan kapasitas masyarakat Afghanistan sangat kurang karena rendahnya mutu dan fasilitas pendidikan. Ditambah lagi dengan sentimen etnisitas dimana setiap suku hanya akan membela dan membantu masyarakat dari sukunya saja, misalnya Khalili hanya akan membantu masyarakat Hazara saja dan Dostum hanya membantu suku Uzbek saja, begitupun dengan suku-suku yang lain.

oleh : Dete Aliah

Afghanistan : Konflik yang Tak Pernah Berakhir - Bagian 2

Afghanistan Kini

Masyarakat Afghanistan sudah begitu akrab dengan perang dari sejak mereka belum lahir. Hingga saat ini perang belum juga kunjung usai dan damai masih jauh dari harapan.

Perang Afghan di abad modern terjadi pada akhir 1970, saat Soviet menginvasi Afghanistan pada tahun 1979 hingga 1989. Sekalipun Soviet kemudian meninggalkan Afghanistan, Soviet masih tetap membantu Muhammad Najibullah, yang saat itu menjabat sebagai Presiden. Namun kekuasaan Najibullah yang dianggap sebagai antek komunis ditumbangkan pada 1992. Selanjutnya perang saudara mewarnai negeri ini sepanjang tahun 1992 hingga 1996. Bibit gerakan Taliban sebenarnya sudah mulai muncul pada awal tahun 1995, namun dapat segera dtumpas oleh Ahmad Shah Masoud.

Pada September 1996, Taliban yang didukung Pakistan dan didanai Arab Saudi berhasil menguasai Kabul dan berkuasa hingga tahun 2001. Pada Desember 2001, United Nation Security Council membentuk kelompok gabungan yang dinamakan ISAF (International Security Assistance Forces) yang mengemban misi untuk menjaga kestabilan keamanan dan membantu pemerintahan Presiden Karzai.

Pada saat ISAF masuk ke Afghanistan, masyarakat Afghan berharap damai akan segera menghiasi langit negeri ini. Namun, semua itu ternyata hanya harapan dan mimpi semu. Karena kenyataannya, pasukan bentukan UN ini juga menjadi salah satu aktor yang merenggut banyak nyawa masyarakat Afghanistan yang tidak berdosa dan tidak mengerti apa-apa, baik itu lelaki dewasa, perempuan maupun anak-anak.

Perang melawan Taliban ini memang sangat warna-warni penyebabnya. Sekalipun Taliban hanya memerintah selama 7 tahun, Taliban mampu mengubah wajah kebebasan negeri ini dengan begitu drastis. Di sisi lain, Taliban bukanlah satu-satunya aktor yang membuat masyarakat Afghan tidak bisa tidur dengan tenang. Konflik di negera ini dipicu oleh banyak hal yang dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Faktor Internal
2. Faktor Regional
3. Faktor Internasional


oleh : Dete Aliah
LTO, Pemilu Presiden dan Provincial Council Afghanistan, Agustus 2009
LTO, Pemilu Parlemen, September 2010

Afghanistan : Konflik yang Tak Pernah Berakhir - Bagian 1

oleh : Dete Aliah

Long Term Observer pada Pemilihan Presiden dan Provincial Council Afghanistan,

Agustus 2009

Long Term Observer pada Pemilihan Parlemen Afghanistan, September 2010


Afghanistan di masa lalu

Berbicara tentang Afghanistan, pikiran kita langsung tertuju pada Taliban, bom bunuh diri, wanita berburka, dan konflik yang tak pernah berakhir hingga kini.

Negara ini dikelilingi oleh Pakistan di bagian Selatan dan Timur, dengan Iran di bagian baratnya, dengan Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan dibagian Utara dan Cina di Timur laut. Afghanistan benar-benar dikunci oleh negara-negara tersebut sekaligus tidak memiliki laut membuat Afghanistan sangat tergantung sekali pada suplai dari negara-negara tetangga untuk berbagai kebutuhan hidup masyarakatnya.

Namun, posisi yang dijepit oleh berbagai negara ini juga menempatkan Afghanistan pada posisi strategis. Melalui negeri inilah para pedagang bisa berniaga ke banyak negara di sekitarnya. Sejak jaman dahulu, Afghanistan merupakan jalur sutra dan wilayah migrasi manusia dari satu negara ke negara di sekitarnya.

Karena banyaknya kepentingan negara-negara tetangga, maka Afghanistan mengalami banyak sejarah pendudukan militer seperti Alexander Agung, Chandragupta Maurya dan Genghis Khan. Kemudian banyak dinasti yang di bentuk di negara ini, seperti dinasti Saffarids, Ghaznavids, Ghorids, Timurids, Moghul dan lainnya. Peradaban di Afghanistan menurut para arkeologi sudah terbentuk sekitar 3000 – 2000 SM.

Wednesday, October 27, 2010

Penghitungan Suara di Pemilu Sri Lanka


Penghitungan suara tidak dilakukan di TPS, seperti halnya di Indonesia dan Afghanistan. Kotak suara ditutup dan diikat di depan observer dan pemilih yang hadir, setelah pemungutan suara selesai. Observer lokal dan wakil dari partai menempelkan stiker mereka. Panitia pemilu membawa kotak suara tersebut ke ARO (Assistant Returning Officer) di setiap distrik. Lalu dibawa ke Colombo.

Penghitungan surat suara dan postal dilakukan di Counting Center dan dihadiri oleh maksimal 5 wakil partai atau sebuah lembaga independen. Sebelumnya, bahkan di bulan Januari, penghitungan dilakukan di ruangan tertutup dan tidak boleh dihadiri oleh wakil partai manapun. Pengumuman sementara dilakukan atas persetujuan Komisi Pemilu. Pengumuman secara nasional dilakukan oleh Komisioner Komisi Pemilu melalui radio dan televisi dari kantor Komisi Pemilu.

Pengumuman penghitungan suara dilakukan dalam 2 tahap : pertama, pengumuman jumlah suara, kedua, jumlah preference. 

Pelanggaran yang mungkin terjadi :
1.  Ada kemungkinan penggantian kotak suara dalam perjalanan. Karena observer dan party agent tidak diizinkan untuk mengikuti kotak suara tersebut. Observer dan party agent juga merasa tidak perlu untuk mengikuti kotak suara tersebut.
2.  Ada kemungkinan kesalahan atau kecurangan dalam penghitungan suara dan kevaliditasan suara, karena hanya penghitungan hanya dilakukan sesama anggota ARO tanpa dihadiri olah observer dan party agent.

Pipit Apriani
International Election Observer di Pemilu Presiden Sri Lanka, Januari 2010
dan Pemilu Parlemen Sri Lanka, April 2010