Contributors

Friday, March 18, 2011

Afghanistan : Konflik yang Tak Pernah Berakhir - Bagian 3

Faktor Internal

Secara internal, sejak negeri ini dikendalikan oleh Presiden Karzai, korupsi merajalela, para elit hanya mementingkan kepentingan diri mereka sendiri dan angka kemiskinanpun meroket. Banyak rakyat Afghan hidup dalam kemiskinan dan kekurangan. Angka kriminalitas tinggi, perampokan dan pembunuhan terjadi dimana-mana. Orang tidak segan menculik dan membunuh orang lain hanya karena uang tebusan. Target yang diplih biasanya orang asing terutama yang berkulit putih, pekerja LSM dan bahkan orang Afghan yang kaya.

Kesenjangan begitu menganga, yang kaya tetap kaya sedangkan yang miskin sulit sekali untuk bangkit dari kemiskinannya. Fenomena perampokan dan pembunuhan demi uang tebusan ini bukan karena orang Afghan kejam, tapi kemiskinan, sulitnya hidup dan mahalnya harga sandang pangan memaksa orang-orang miskin memilih jalan pintas ini untuk tetap bisa bertahan hidup. Negara tidak mampu menangani masalah korupsi dan ini yang membuat masyarakat kecewa dan marah.

Dalam pemilihan presiden tahun 2009 lalu, masyarakat Afghanistan sudah apatis dengan kepemimpinan Karzai. Mereka sangat berharap dan memimpikan pemimpin baru yang bisa membawa Afghanistan keluar dari kemiskinan dan perang yang sudah sangat melelahkan jiwa masyarakat Afghan. Mereka menginginkan kedamaian dan bisa hidup tenang. Namun, harapan itu lagi-lagi hanya mimpi karena wajah Afghanistan masih tetap menampakan wajah lama, yaitu pemimpin lama kembali dipilih walau tidak dikehendaki masyarakat.

Pun pada pemilihan majelis rendah atau wolesi Jirga pada September 2010 lalu, masyarakat Afghanistan sudah tidak peduli dengan pemilihan wakil rakyat. Karena mereka tahu bahwa janji yang diucapkan saat kampanye hanyalah janji. Kehidupan masyarakat tidak akan berubah sekalipun kandidat tersebut sudah duduk di parlemen. Kemiskinan dan ketidakberdayaan inilah yang membuat sebagian masyarakat melakukan tindakan-tindakan yang membuat sebagian masyarakat lain merasa terancam keamanannya.

Eksistensi warlord (mujahidin) masih sangat kuat dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat dan perpolitikan negeri ini juga menjadi warna lain yang membuat konflik negeri ini tidak pernah usai.

Warlord pada jaman perang melawan Soviet memiliki posisi yang sangat dihormati, disegani dan ditakuti karena tindakan mereka yang kadang sangat kejam dan brutal. Ketika Taliban berkuasa, kekuasaan para warlord tidak lagi sekuat sebelumnya. Pengaruh mereka menghilang dan ini menyebabkan para warlord kecewa dan kemudian melakukan tindakan-tindakan yang membuat rakyat menjadi gusar dan hidup dalam ketakutan.

Kondisi yang sama pun terjadi saat Karzai menjabat sebagai presiden. Peran warlord ditekan dan ini membuat para warlord merasa tidak nyaman. Para warlord ini berusaha untuk kembali dan menanamkan kuku kekuasaannya. Hal ini terlihat pada pemilu majelis rendah tahun lalu. Banyak kandidat yang diback up oleh para warlord. Pemilu sangat terkesan sekali sebagai ajang pertarungan antar warlord.

Sistem rekrutmen di kursi pemerintahan adalah faktor internal lain yang memunculkan pergolakan di masyarakat. Masyarakat tidak puas terhadap orang-orang yang duduk dalam pemerintahan tersebut. Perekrutan orang-orang ini tidak dilakukan berdasarkan kemampuan, tetapi berdasarkan relasi, afisiliasi, persamaan bahasa dan etnisitas.

Sistem ini yang membuat orang-orang yang duduk dalam pemerintahan hanya loyal pada atasannya dan bukan pada masyarakat dan pembangunan negeri ini. Mereka hanya peduli bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dan 80% dana pembangunan akan masuk ke kantong mereka, hanya 20% yang digunakan untuk pembangunan.

Ini menjadi masalah besar bagi pemerintah, karena angka pengangguran semakin banyak dan akses ke pelayanan sosial juga sulit didapatkan masyarakat. Maraknya organisasi internasional di Afghanistan, membuat masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemerintah karena organisasi internasional ini mampu memberikan gaji yang jauh lebih besar dan fasilitas yang lebih baik dari yang bisa diberikan oleh pemerintah. Kondisi ini membuat image pemerintah jatuh karena organisasi internasional lebih mampu memberikan gaji dibanding pemerintah.

Karena kondisi ini lahirlah kekecewaan masyarakat kepada pemerintah karena mereka melihat banyak politisi korup, pemerintah korup, polisi korup dan akhirnya mereka memilih bergabung dengan Taliban karena dengan menjadi anggota Taliban, mereka bisa mendapatkan uang dengan mudah dan cepat.

Tingginya tingkat buta huruf masyarakat yang hampir mencapai kurang lebih 30-35%, membuat masyarakat Afghanistan sangat rentan dan mudah sekali dipengaruhi oleh orang lain, baik oleh politisi, pimpinan agama, warlord maupun pihak-pihak lainnya. Tingkat buta huruf sangat tinggi karena budget negara banyak diserap untuk anggaran keamanan baik untuk pembelian peluru, senjata, dll., sementara untuk dana kesehatan, pendidikan dan pembangunan infrastruktur lebih kecil.

Keadaan seperti ini mengakibatkan kapasitas masyarakat Afghanistan sangat kurang karena rendahnya mutu dan fasilitas pendidikan. Ditambah lagi dengan sentimen etnisitas dimana setiap suku hanya akan membela dan membantu masyarakat dari sukunya saja, misalnya Khalili hanya akan membantu masyarakat Hazara saja dan Dostum hanya membantu suku Uzbek saja, begitupun dengan suku-suku yang lain.

oleh : Dete Aliah

No comments:

Post a Comment