Contributors

Wednesday, October 27, 2010

Kesan singkat dalam pemantauan 2 pemilu di Sri Lanka


Dua pemilu Sri Lanka yang berlangsung di tahun 2010 ini berlangsung damai dan nyaris tanpa konflik berarti di hari H. Tetapi suasana damai dan tenang tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pemilu yang demokratis berdasarkan beberapa kriteria pemilu free and fair election. Kurangnya partisipasi rakyat terutama Tamil serta tingginya tekanan pemerintah dan pihak mayoritas yang memiliki kekuasaan dan senjata menciptakan suasana tenang yang justru ’menakutkan’.

Presiden dipilih enam tahun sekali dan hanya 2 kali. Pemilu Presiden  dilaksanakan pada 26 Januari 2010. Ini merupakan percepatan 2 tahun lebih awal dari seharusnya yaitu tahun 2011. Hal ini sesuai Konstitusi.

Parlemen memiliki 225 anggota, dipilih untuk bertugas 6 tahun. 196 di antaranya dipilih dengan sistem representasi proporsional. Setiap partai dialokasikan sejumlah kursi berdasarkan jumlah suara yang diperoleh partai tersebut di setiap distrik.

Jumlah kandidat sebanyak 7.000 orang. Tidak hanya dari partai politik, tetapi juga dari independen, karena generasi muda yang tidak mendapat tempat di partai politik yang cenderung didominasi oleh kelompok usia tua.

Keamanan
Isu keamanan merupakan isu yang paling penting dan menyorot perhatian kami. Mengingat Sri Lanka baru saja selesai menghadapi pemberontakan Macan Tamil. Pemerintah Sri Lanka bertekad untuk mempertahankan suasana damai tersebut.

Bulan Januari kami melihat di sepanjang jalan banyak tentara dan polisi berjaga-jaga dengan senjata laras panjang, tapi di bulan April, kami tidak melihat hal itu lagi. Polisi dan tentara berjaga-jaga hanya di persimpangan jalan.

Tetapi penduduk enggan keluar rumah bahkan untuk bekerja dan membuka toko, karena adanya ‘himbauan’ dari pemerintah untuk menghindari jalan utama, baik di desa, kota kecil hingga Colombo. Pihak-pihak tertentu juga menekan pihak oposisi agar tidak aktif dalam kegiatan pemilu, mulai dari kampanye, sosialisasi program bahkan hingga pemungutan suara. Penekanan ini dengan tindakan pamer kekuatan, pembakaran mobil dan penyerangan fisik bahkan pembunuhan, baik di bulan Januari maupun bulan April.

Pipit Apriani
International Election Observer di Pemilu Presiden Sri Lanka, Januari 2010
dan Pemilu Parlemen Sri Lanka, April 2010

No comments:

Post a Comment